Efek Trump Menculik Maduro Presiden Amerika, USD Mengalami Penurunan
Mayoritas mata uang Asia bergerak tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global pasca operasi militer AS di Venezuela. Eskalasi tersebut mendorong pelaku pasar mengalihkan dana ke aset aman (safe haven), sehingga memperkuat posisi dolar AS di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Senin pagi (5/1/2025) pukul 09.15 WIB, delapan dari sepuluh mata uang Asia tercatat melemah terhadap dolar AS. Hanya dua mata uang kawasan yang masih mampu mencatatkan penguatan.
Pelemahan terdalam dialami won Korea Selatan yang terdepresiasi 0,33% ke level KRW 1.447,4 per dolar AS. Tekanan juga dialami ringgit Malaysia yang turun 0,25% ke posisi MYR 4,062 per dolar AS.
Selanjutnya, peso Filipina melemah 0,15% ke level PHP 58,873 per dolar AS, disusul dolar Singapura yang terkoreksi 0,14% ke posisi SGD 1,2875 per dolar AS. Yen Jepang juga tercatat melemah 0,10% ke level JPY 156,97 per dolar AS.
Tekanan lanjutan terlihat pada dong Vietnam yang turun 0,05% ke posisi VND 26.282 per dolar AS, serta dolar Taiwan yang melemah tipis 0,04% ke level TWD 31,372 per dolar AS.
Rupiah pun turut bergerak di zona merah dengan depresiasi sebesar 0,09% ke posisi Rp16.730 per dolar AS.
Di tengah pelemahan mayoritas mata uang kawasan, yuan China dan baht Thailand menjadi pengecualian. Yuan menguat 0,16% ke level CNY 6,9819 per dolar AS, sementara baht Thailand terapresiasi 0,06% ke posisi THB 31,45 per dolar AS.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat 0,19% ke level 98,615, mencerminkan tingginya permintaan terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Penguatan dolar terjadi seiring sikap hati-hati pelaku pasar pasca operasi militer Amerika Serikat di Venezuela pada Sabtu (3/1/2025) yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran geopolitik baru, meskipun dampaknya terhadap pasar keuangan global sejauh ini masih relatif terbatas.
Dalam kondisi tersebut, investor cenderung meningkatkan eksposur terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai, sehingga mendorong indeks dolar ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Selain sentimen geopolitik, penguatan dolar AS juga didukung oleh antisipasi pasar terhadap sejumlah rilis data ekonomi penting Amerika Serikat sepanjang pekan ini. Data ketenagakerjaan menjadi fokus utama, mulai dari laporan pembukaan lapangan kerja (JOLTS), data ketenagakerjaan versi ADP, hingga laporan non-farm payrolls (NFP) periode Desember yang dijadwalkan rilis pada Jumat.
Pasar juga mencermati rilis indeks aktivitas manufaktur dan jasa versi ISM, serta survei sentimen konsumen University of Michigan yang dinilai dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai ketahanan ekonomi AS.
Rangkaian data tersebut berpotensi mempengaruhi arah kebijakan moneter The Federal Reserve ke depan. Saat ini, pelaku pasar masih memperkirakan peluang dua kali pemangkasan suku bunga acuan tahun ini, meskipun proyeksi resmi The Fed sejauh ini baru mengindikasikan satu kali pemangkasan. Ketidakpastian terkait arah kebijakan suku bunga ini turut menopang permintaan terhadap dolar AS.